PAY-PER-CLIK

kenaikan BBM | Mei 6, 2008

JAKARTA–MI: Kalangan dunia usaha kecewa pemerintah belum juga memutuskan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hari ini sehingga menimbulkan ketidakpastian.

“Kami tadi berharap rapat kabinet terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden, bisa memutuskan besaran kenaikan dan kapan diberlakukan. Tapi ternyata masih diambangkan. Ketidakpastian ini membuat pelaku usaha belum bisa tidur nyenyak,” ujar Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Moneter dan Fiskal, Bambang Soesatyo, di Jakarta, Senin (5/5).

Ia mengatakan, para pelaku usaha berharap pemerintah cepat mengambil keputusan terkait kenaikan harga BBM bersubsidi. “Mengenai besarannya kenaikan terserah pemerintah,” katanya.

Bambang mengatakan, kalangan pelaku usaha sudah siap dengan kenaikan harga BBM berubsidi. Namun berharap kenaikan di bawah 30 persen.

“Jika kenaikan harga jauh di atas 10%-30 persen, misalnya kenaikan harga premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter sama dengan kenaikan 33 persen, dampaknya sangat besar terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah,” ujarnya.

Selain itu, Bambang menilai kenaikan harga BBM yang sangat besar bersifat destruktif terhadap kesejahteraan masyarakat, karena dikhawatirkan akan menimbulkan peningkatan jumlah warga miskin.

“Harus ada kombinasi antara kenaikan yang terjangkau, upaya penghematan, dan peningkatan produksi,” ujarnya.

Ia mengatakan, mengingatkan agar pemerintah tidak menaikkan harga premium sebesar 33 persen karena akan memicu inflasi mencapai dua digit, mengingat premium merupakan bbm yang banyak digunakan masyarakat.

Ia mengatakan, kenaikan harga bbm rata-rata 20 persen saja akan menyebabkan harga barang-barang naik 5-7 persen, apalagi jika lebih dari 20 persen. Sementara sejak tahun 2005 ketika pemerintah menaikkan BBM rata-rata 126 persen, pemerintah dinilainya belum membuat kebijakan yang menstimulus pendapatan masyarakat.

“Sudah sejak lama kecenderungan daya beli rakyat berbanding terbalik dengan kenaikan biaya produksi. Daya beli masyarakat terus melemah, sedangkan biaya produksi terus menggelembung karena harga BBM industri terus meningkat,” katanya. (Ant/OL-06)

ujung-ujung nya masyarakat menengah kebawah yang harus kita perhatiin kita gak bisa nyalahin pemerintah, kita gak bisa nyalin sapa aja karna harga minyak bumi sudah terlalu tinggi pemerintah sudah terlalu berat buat subsidi,mang sebenernya para apat pemrintah jangan asal ujung-ujung nya duit kami selaku rakyat lah yang mejadi korban, da berpa bnyak uang kami (rakyat) yang kalian gunai gak jelas secare pribadi


Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

About author

The author does not say much about himself

Cari

Navigasi

Kategori:

Links:

Archives:

Feeds

%d blogger menyukai ini: